Monday, 6 June 2011

PERIODISASI SASTRA INDONESIA ANGKATAN ‘45 (1940-1955)

PERIODISASI SASTRA INDONESIA ANGKATAN ‘45 (1940-1955)



  Sastra Indonesia ialah sastra berbahasa Indonesia, sedangkan hasilnya adalah sekian banyak puisi, prosa, roman dan naskah drama berbahasa Indonesia. Akan tetapi, definisi yang singkat dan sederhana adalah keseluruhan sastra yang berkembang di Indonesia.

  Periode sastra adalah pengelompokan hasil karya sastra berdasarkan urutan waktu. Periode – periode itu erat hubungannya dengan angkatan – angkatan sastra yang
menempati periode - periode tersebut. Oleh sebab itu, masalah angkatan tak dapat dihindari dalam penulisan sejarah sastra Indonesia.

  Angkatan sastra adalah sekumpulan sastrawan yang hidup dalam satu kurun massa atau menempati suatu periode tertentu dengan kesamaan ide, gagasan atau semangat sebagai akibat logis dari interaksi yang se-zaman.

Sejarah Sastra Indonesia
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sejarah sastra merupakan cabang ilmu sastra yang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa, misalnya sejarah sastra Indonesia, sejarah sastra Jawa, dan sejarah sastra Inggris. Objek sejarah sastra adalah segala peristiwa yang terjadi pada rentang masa pertumbuhan dan perkembangan sastra suatu bangsa.
Dalam pengantar ilmu sastra (Luxemburg, 1982 : 200-212) dijelaskan bahwa dalam sejarah sastra dibahas periode-periode kesastraan, aliran-aliran, jenis-jenis, pengarang, dan juga reaksi pembaca. Adapun dasarnya adalah filsafat positivisme yang bertolak pada prinsip kausalitas, yaitu segala sesuatu dapat diterangkan bila sebabnya dapat dilacak kembali. Dalam hal sastra, sebuah karya sastra dapat diterangkan atau ditelaah secara tuntas apabila diketahui asal usulnya yang bersumber pada riwayat hidup pengarang dan zaman yang melingkunginya.
Metode Penulisan Sejarah Sastra Indonesia
a.Menerapkan teori estetika resepsi atau estetika tanggapan.
b.Menerapkan teori penyusunan rangkaian perkembangan sastra dari periode ke periode atau dari angkatan ke angkatan.

Periodisasi Sastra Indonesia
Periode Balai Pustaka (1820-1930)
Periode Pujangga Baru (1930-1945)
Periode Angkatan ‘45 (1940-1955)
Periode Angkatan ’50 (1950-1970)
Periode Angkatan ‘70 (1965-sekarang)
Periode Angkatan ’45 (1940-1955)
Angkatan ’45 diperkenalkan  oleh Rosihan Anwar yang ditulis dalam majalah Siasat tahun 1950, dikenal juga dengan angkatan Chairil Anwar atau angkatan kemerdekaan.
 Ciri-Ciri Sastra Indonesia Angkatan ’45 Secara Spesifik
vBentuk (tipologi) berbeda dari angkatan sebelumnya.
vIsi bercorak realitas (induk pada isi).
vIsi karya sastra lebih diutamakan dari pada bahasanya.
vKarya ’45 dipengaruhi oleh pujangga Belanda dan juga dari Rusia, Perancis, Italia dan Amerika.
vBentuknya berupa sajak, novel, drama dan cerpen.
vKecenderungan pada individualistik : benar-benar menceritakan isi perasaan dan pikiran pengarangnya.
vBersifat universal dan objektif.
vBertemakan patriotis atau heroik.
vBebas  : tidak berhubungan dengan masalah adat dan tidak tertuju pada satu aturan.
vFuturistik : menciptakan hal-hal baru dan berorientasi pada masa depan.
Tokoh-Tokoh Karya Sastra Indonesia Angkatan ‘45
1.Chairil  Anwar
§Lahir di Medan tanggal 22 Juli 1922
§Pendidikan tidak tamat MULO (SMP)
§Dikenal sebagai individu yang bebas dan pemberani yang tampak pada sajaknya yang berjudul “Aku”, bahkan secara demonstratif menentang sensor Jepang sehingga dia menjadi incaran Kenpetai (Polisi rahasia Jepang yang terkenal galak dan kejam). Tetapi di samping seorang individualis, Chairil juga seorang yang mencintai tanah air dan bangsanya yang tampak dalam sajak-sajak “Diponegoro”, “Krawang-Bekasi”, “Persetujuan Dengan Bung Karno”, dll.

  Pada tahun 1948 Chairil menerbitkan dan memimpin redaksi majalah Gema Suasana namun segera ditinggalkan. Lalu pada tanggal 28 April 1949 ia meninggal di rumah sakit umum pusat Jakarta karena tipus dan beberapa penyakit lain. Dia di kuburkan di pemakaman Karet.
Karya Chairil Anwar
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
 Aku ini bintang jalang
Dari kumpulannya terbuang
 Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap merajang menerjang
 Luka dan bisa ‘ku bawa berlari
Berlari
 Hingga hilang pedih perih
 Dan aku lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.




No comments:

Post a Comment